Riwayat Aiyub Syahkubat dan Kami yang Menuhankan Diri
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
KARYA: NAZAR SHAH ALAM
(Puisi juara pertama lomba menulis Puisi Esai Denny JA tahun 2014)
(Puisi juara pertama lomba menulis Puisi Esai Denny JA tahun 2014)
/1/
Lihatlah olehmu untuk yang terakhir kali
langit Peulimbang pada Jumat malam yang kelam sepi1.
Nun di Jambo Dalam di balik diam pondok mengaji,
lampu-lampu bohlam hidup malas
serupa jalar kelam: pelan, culas, dan diam.
Angin kampung yang lasak begitu cepat
menghembuskan kabar tak rancak
ke pacak rumahmu. Dan kau menunggu
segerombolan orang marah
seperti seorang Ayah melepas lelah
setelah bekerja berminggu-minggu.
Bangku kayu depan rumahmu
dan lampu di atasnya pelan-pelan meredup.
Kau berdiri menyibakkan kaki.
Di tanganmu, kematian telah menunggu.
Di balik punggungmu, orang-orang bersetia
memegang besi kursani,
menggengam pedang dan dendam
yang tak terkendali.
Aiyub Syahkubat, hei engkau, si tuan tempat.
Guru mengaji yang dituduh sesat.
Menunggu kematian bergelayut di pintu rumahmu,
di balai tempat kau bagi dangkal ilmumu.
Lihatlah, orang-orang dekat dengan cekat
bersiap hendak mencegat amuk murka masyarakat.
Kau akan menemukan kelam langit
mengabarkan duka sebentar lagi.
Dan api-api yang disulut entah siapa
akan berkobar di sini.2
1Pada tanggal 16/11/2012 terjadi penyerangan terhadap Teungku Aiyub Syahkubat dan pengikutnya di Desa Jambo Dalam, Kecamatan Peulimbang, Kabupaten Bireuen akibat tuduhan penyebaran ajaran sesat. Ketika insiden terjadi, lampu di rumah Teungku Aiyub Syahkubat sengaja dimatikan. Sumber: http://www.tribunnews.com/regional/2012/11/17/tewas-tengku-ayub-dituduh-ajarkan-aliran-sesat
2Puluhan murid Teungku Aiyub Syahkubat sudah menunggu dengan senjata tajam, bersiap menghadang warga yang mengamuk. Sumber:
/2/
Mestinya kamu patuhi
perjanjian Maret 2011 silam3
Sebuah nota yang kita terima di hadapan para imam
yang kamu tandatangani dan kita semua telah setujui.
Mestinya kau hentikan perihal kaji mengaji.
Oh, Aiyub yang tua telah lupa
pada segala kelemahannya.
Kau ragu najis melekat di pasir dan batu pembangun masjid,
sehingga jamaahmu tidak kau izinkan ke sana.
Kau tidak kabarkan segala sesuatu
seolah begitu paham pada duduk perkaranya.
Apakah kau lupa dengan apa dibangun Kakbah?
Jika batu dan pasir sucinya kau pertanyakan?
Apakah kau ragu, Aiyub, pada kesucian
Kakbah dan Masjidil Haram
yang suci menurut Tuhan?4
3Teungku Aiyub Syahkubat sudah pernah diperingatkan oleh ulama dan tokoh masyarakat setempat agar menghentikan pengajiannya, namun beliau tidak mengindahkan hal tersebut. Sumber: http:// www.tribunnews.com/regional/2012/11/17/tewas-tengku-ayub-dituduh-ajarkan-aliran-sesat
4Allah telah menjadikan Kakbah, rumah suci itu sebagai pusat peribadatan... (QS. Al Maidah 97).
/3/
Wahai orang-orang yang berkerumun.
Bukankah hanya Tuhanmu saja yang berhak
atas segala hukum menghukum?
Atas air, api, angin, tanah,
atas tubuh, nyawa, darah,
atas segala luka dan nanah.
Hanya Ia pemiliknya, Ia yang tahu
semestinya harus bagaimana.
Apakah kita hendak menggantikan Tuhan
yang maha suci dengan kehendak seolah suci?
Kau telah mencoba menghakimi
padahal Ia sebaik-baik hakim
pada Aiyub serta diri kita yang tak juga suci ini.
Oh, bagaimana bisa kita lemparkan tubuh manusia ke kobar api.
Tidakkah kau rasakan jika itu menimpa puakmu sendiri?
Bagaimana jeranya tubuh dilalap api. Kita lupa
siapa yang berhak membakar pendosa.
Bukan kau, bukan kita. Kelak Tuhan akan
melemparkan tubuh-tubuh nista siapa saja
ke dalam kobar api sebab kekafirannya.
Sebab kesalahan yang ia tidak pernah
memohon ampunan-Nya.
Kelak, Tuhan yang perkasa
akan menunjukkan pada kita
siapa yang berhak dilarung ke neraka
sehingga terkelupas kulit-kulitnya.5
Wahai pemarah yang kalap.
Mestinya kami beri peta yang tepat
pada tiap mereka yang sesat
dalam perjalanan mencari Tuhan
dan agama yang benar.
/3/
Lihatlah olehmu, wahai orang-orang beramarah,
untuk yang terakhir kali langit Peulimbang
pada suatu Jumat malam yang kalap memerah.
Nun di Jambo Dalam tersimpan satu kenangan
di balik diam pondok mengaji,
lampu-lampu bohlam hidup malas
serupa jalar kelam: pelan, culas, dan diam.
5QS. An Nisaa’ 56
Bayangkan Aiyub. Bayangkan Aiyub
sedang duduk menikmati segelas kopi
sembari melihat masa tuanya beranjak pelan-pelan
di mata anak dan istri.
Dan kau datang bergerombolan dengan amarah
seperti kanak-kanak yang tak dituruti kemauannya
setelah meraung berminggu-minggu,
siang dan malam. Seperti seorang bocah
dihilangkan mainan. Di tanganmu, kematian menyala-nyala
meminta kau lepaskan. Jika kau suci,
mengapa kau biarkan tanganmu kotor
oleh nyawa manusia?
Polisi-polisi di sampingmu, kawanku, adalah mereka
yang juga tak berani. Mereka hukum Aiyub Syahkubat
tapi tidak mengamankannya. Dia biarkan kita
melempar badannya ke api, begitu saja.
Begitu saja dan selesai tanpa ada hukum karma.
Mestinya mereka menangkap kita atas kejahatan
yang telah kita lakukan malam ini, bukan?
Tapi mereka yang di sana adalah beberapa pengecut
yang takut pada amuk parang. Senjata di tangannya
hanyalah hiasan dan memiliki hanya satu pelor
yang dikhususkan untuk kaki sang teungku sesat.
Kita meloncat-loncat. Hukum
tidak bertindak dengan benar
sebab alasan-alasan samar.
Kita girang. Bersenang-senang. Sedang polisi
terlihat seperti berpura-pura gamang.6
/4/
Orang-orang berlari menuju malamnya.
Semakin jauh. Semakin malam.
Semakin mencekam.
Sementara di belakang mereka
sulur api seperti dirasuki setan.
Kita bertemu dalam hantam kayu batu,
dalam adu besi kursani,
dalam hantam pedang dan dendam.
Seperti dikehendaki setan-setan.
Seperti dikehendaki amarah tak bertuan.
6Teungku Aiyub ditembak kakinya oleh polisi. Ironisnya, ketika warga melempar tubuh Teungku Aiyub ke api yang menyala, polisi tidak bertindak apa-apa. Sumber. http://www.acehkita.com/berita/polisipenembakan-teungku-aiyun-sesuai-prosedur/
Di langit, malaikat menutup wajah mereka.
Dan di bawahnya, iblis-iblis tertawa.7
Di kampung, pekik luka dan raung nestapa
membahana. Di gunung, dengung terdengar begitu saja.
Di laut, ombak menyamarkan tarung.
Di kota yang bising, surat kabar
menyampaikan bau pesing dalam kata-kata
yang tak ingin dibaca ulang. Oh, orang-orang
yang menjaga api di dendam matanya.
Bayangkan bagaimana takutnya
orang-orang yang diam di rumah.
Anak istri Aiyub Syahkubat
dan perempuan-perempuan kalut.
Kau telah menjadi tiran bagi kaummu sendiri.
Mengapa tidak kau lindungi
mereka si orang-orang nyeri?
Mengapa kau harus menunggu polisi-polisi
Tak ada semangat, tak buru-buru membawa lari
mereka ke tempat yang tenang dari amukmu?
Sebentar saja kita mencoba menjadi Tuhan
yang berhak atas hukuman demi hukuman.
Malam celaka dan tubuh-tubuh lata telah sirna
seperti kita kehendaki, seolah kita
makhluk maha benar dan kita pulalah pencipta semesta
yang mereka huni sekarang. Dan bagaimana bisa
kau nikmati bau daging manusia merebak di kampungmu?
Bau tubuh lelaki lata yang telah luka kakinya
dan tak berdaya lalu kau buang begitu saja
dalam kobar api nyala. Bagaimana bisa
kita menikmati itu semua?
7Iblis telah berjanji akan menggoda manusia dan membuat dunia kacau dengan berbagai tipu daya. Sumber.http://islam-ktpe.blogspot.com/2011/12/perjanjian-iblis-dan-allah-swt.html
/5/
Kita harus pulang ke rumah-rumah sunyi
setelah badan Ayub dikelupas api.
Sementara harus pula kita kembali
mengulang memelajari ayat-ayat Tuhan di kitab suci
yang terlalu lama berdebu di laci
atau rak atau lemari.
Memahami berulang-ulang kali
sampai kita menemukan satu ayat saja
di mana Tuhan mengizinkan kau atau aku
menghukum semena-mena manusia
yang (sekali pun) telah salah jalan cari?
Adakah kita telah mengerti
bagaimana keinginan Tuhan
dalam ibadah-ibadah yang telah kita taati?
Apakah ibadah kita telah benar diterima
dalam peluk Dzat pencipta hidup dan pemberi mati?
Wahai, orang-orang memegang amarah.
Adakah kau temukan satu ayat saja
di mana diterangkan bahwa Tuhan
maha mencintai darah-darah?
Sehingga kemudian untuk menulis namanya
di hati orang-orang harus dimulai
dengan penumpasan-penumpasan
dan kematian-kematian
yang tidak pernah wajar. Adakah satu ayat saja
yang memaksa kita agar segera
menyelesaikan perkara dengan amarah?
Sehingga untuk memaksa tegak nama-Nya
kita bisa sesuka kilah.
Kita tidak menemukan firman
dan hadis yang kejam.
Kita dianjur damai. Dan, bukankah ini
telah menunjukkan bahwa kita
telah mendustakan nikmat Tuhan?
Oh, nikmat Tuhan yang damai ini
ternyata yang telah kita dustakan.
Aiyub pulang ke haribaan Tuhan
barangkali sebagai tubuh tanpa nista lagi.
Sebab siksa yang kau berikan
telah menghapus segala dosa
yang pernah ia lakukan.
Sedang kita, saudaraku, bagaimana
catatan malaikat belum kita tahu.
Di kanan atau di kiri?
Kita tidak mengerti.
Kita akan menerima pembakaran-pembakaran
yang jauh lebih berat, barangkali,
kelak setelah bertemu dengan mati.
Atau, ah, aku seperti tidak yakin
pada kemungkinan syurga.
Kita pembunuh yang keji. Pembakar tak sabar.
Pengadil yang semena-mena. Kita hakim
yang tak tahu benar atau salahnya.
Aiyub telah menemui Tuhan
dan dia akan menemukan keadilan.
Sedang kita, saudaraku,
pelan-pelan menuju kematian
tanpa pernah bisa lupa pada tubuh
yang terlanjur kita bakar. Nyawa
yang dengan amarah menyala
telah kita paksa terbang menemui Tuhan.
/6/
Lihatlah olehmu untuk yang terakhir kali
langit Peulimbang pada lain Jumat malam
yang tak lagi kelam sepi. Nun di Jambo Dalam
di balik diam tak ada lagi pondok mengaji,
lampu-lampu bohlam hidup malas
serupa jalar kelam: pelan, culas,
dan diam. Angin kampung yang lasak
menghembuskan penyesalan ke rumahmu,
ke kamar, dapur, ruang tamu.
Dan kau menunggu kematian
sembari menerka-nerka bagaimana
pembunuhan tempo waktu
akan diadili Tuhan kemudian.
(Banda Aceh, 2012-2014)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar